-
Kejar Daku Kau Kutipu
Ini bukan pengalaman sepasang muda-mudi yang lagi kasmaran. Ini terjadi ketika saya masih menjadi mahasiswa tahun pertama dulu. Hari itu hari dimana jam kuliah pertama yaitu jam 7 pagi. Sang dosen calculus bilang kalau masuk setelah beliau masuk maka harus ada konsekuensinya. Dan entah mengapa konsekuensinya menjadi nyanyi di depan kelas. Jadi setiap mata kuliah calculus, tidak heran banyak teman sekelas yang keliatan ngosngosan.
Pada hari itu jaket hitam yang biasa saya pakai kebetulan sedang dicuci. Jadi saya memakai jaket biru khas ITB. Warna birunya saya pikir mencolok. Di dalamnya saya mengenakan kaos berwarna hitam. Saya jalan dengan tergesa-gesa untuk sampai ke jalan raya tempat angkot banyak berseliweran. Dari kejauhan di pinggir jalan raya —tempat saya biasa menunggu angkot— ada ibu-ibu yang tampaknya sedang ngobrol. Tiap orang yang saya lihat sempat ngobrol dengan ibu itu, mereka langsung menghindar. Saya pikir apa karena ibu ini kelihatan kumal jadi pada menghindar. Kalau beliau memang orang yang tidak mampu tidak musti dijauhi kan.
Sampailah saya di pinggir jalan raya itu dan menunggu. Ibu-ibu rambut pendek sebahu itu pun menghampiri lalu mulai nanya-nanya. Dia tanya , saya jawab. Giliran saya tanya jawabanya ga nyambung. Saya tanya apa, dia jawab apa.. . Beliau memperhatikan jaket saya yang mungkin karena warnanya mencolok.
Munculah angkot yang saya tunggu. Kemudian saya naik angkot. Ia pun ikut naik angkot. Ia duduk di sebelah saya, sambil kadang-kadang pegang jaket yang saya pakai. Sial -_-
Saat itu saya rasa tekanan darah saya naik drastis.
Jatung kompresor.
Di otak saya sudah fix sebuah kesimpulan ‘Ini orang gila’. Gila dalam artian yang sebenarnya. Saat itu hanya ada satu kalimat pertanyaan, ‘Bagaimana caranya saya bisa lepas dari orang ini’.
Kalau saya turun pasti ia bakal ngikut. Kalaupun tidak ngikut saya jadi telat. Kalau saya bilang ini orang gila, penumpang yang kebanyakan cewe ini akan panik. Supir pasti berhentiin angkot. Dan bakal lama ngeluarin orang ini dari angkot. Apa saya bawa orang ini ke ITB. Lalu minta tolong orang lain atau satpam.
Di pertengahan perjalanan si ibu mulai bicara ga jelas dengan volume suara setara dengan kondektur. Penumpang pun akhirnya sadar kalau mereka seangkot dengan orang gila. Satu cewe akhirnya turun dan yang lain tetap di angkot tapi mojok menjauhi saya dan beliau. Pa supir pun sadar tapi ia juga kelihatan serba salah.
Sampai di perempatan gandok, ada banyak mahasiswa yang naik di daerah ini. Jadi, angkot akan langsung penuh pada jam sekitar jam 7 saat ini.
Begitu antrian pertama masuk dan beliau lengah saya geser tempat duduk. Maka antara saya dan beliau dipisahkan oleh seorang mahasiswa.
Ibu ini masih berbicara sendiri. Maka makin banyak orang yang risih. Tapi tetap prioritas mereka yaitu bagaimana carannya sampai di kampus tepat waktu. Tidak ada yang menghentikan angkot. Masalah sekarang bagaimana nanti saya turun kalau masih dikenali beliau. Kebetulan mahasiswa yang jadi pemisah tadi berbadan besar. Maka saya seperti disediakan kamar ganti. Saya lepas jaket biru yang saya pakai. Kemudian saya kencangkan ikatan tas agar mendekati bahu. Begitu turun , saya angkat sedikit bahu saya hingga menutupi setengah muka bagian bawah. Tidak lupa sedikit senyum kemenangan.. Haha..
Kini mungkin giliran pak supir yang mengurus beliau. Saya berhasil turun. Tidak telat. Tidak membawa ibu-ibu. Ataupun aditif lain.
Saya tidak jadi bertanggung jawab atas bertambahnya orang gila di ITB. Tapi mungkin saya bertanggung jawab atas bertambahnya orang gila baru di suatu tempat.
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
Tapi sebenarnya bukan hal itu yang ingin saya ceritakan. Selama di kelas saya berfikir.
Kenapa saya membiarkan ibu yang linglung dibiarkan linglung di lingkup kota. Ligkup yang lebih besar. Padahal saya bisa batalkan naik angkot dan minta tolong orang di sana carikan orang yang siapa tahu kenal dengan ibu itu.
Kenapa saya tidak berpikir jernih sebelum ini. Orang gila akan terus gila kalau diperlakukan tidak seperti orang pada umumnya. Seperti bayi yang tidak akan bisa bicara jika tidak diajak bicara.
Kenapa saya lebih memprioritaskan untuk sampai tepat waktu di kelas.
Bagaimana kalau ibu itu punya keluarga yang sekarang sedang kebingungan mencari. Bagaimana kalau supirnya tidak mengembalikan ibu tadi ke tempat asalnya dan malah menurunkanya sembarangan.
Sejak tadi saya hanya mencari solusi yang lebih mirip memindahkan masalah pada orang lain.
Kalau tadi saya sempat berpikir jernih, saya lebih pilih bolos kuliah. MENYESAL
-
Morning on Mars
Posted on March 20, 2012 via Hyperlexia with 14,990 notes
Source: expositionfairy
-
mari yang di negeri Bandung dan sekitarnya , merapat di tanggal 25 Maret 2012
PAGELARAN SENI BUDAYA 2012
Institut Teknologi Bandung
di sepajang Jalan Ganeca :)
(via adamhastaraaji)
Posted on March 19, 2012 via MASGUN with 17 notes
Source: kurniawangunadi
-
Edouard François “Flower Tower” Paris (photo by Decoh)
Posted on March 18, 2012 via with 5,257 notes
-
Waktu akan menampakkan apa yang tidak kamu ketahui, Dan datang memberimu berita tentang apa yang tak kamu ketahui
no name -
Sentuhan terakhir, maksud seseorang siapa yang dapat menebak
-
Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Satu dari 25 nasihat Lukman untuk anaknya -
Jika engkau menginginkan kemuliaan yang tak bisa sirna, maka jangan banggakan kemuliaan yang bisa sirna
Al-Hikam_Ibn Atha’illah -
What we are right now, is a product of our past. If we don’t like what we see today, we change it. We make it happen. It may not be for the benefit of our own, but by god, it will be for the benefit of our children’s children.
Pandji Pragiwaksono
Nasional.is.me
-
We are all a little weird and life’s a little weird, and when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall in mutual weirdness and call it love
Dr. Seuss (via aseptia)







